Thursday, September 4, 2008

Untuk Muhammad Athaillah


Hidup memang tak selalu seperti yang kita inginkan. Hidup ini tak linear. Lurus terus seperti sebuah jalan yang ujungnya terlihat jelas. Tidak seperti itu. Hidup ini ternyata penuh dengan kelokan dan kejadian yang tak terduga. Hidup ini seperti sebuah acakan. Sebuah acakan yang indah. Full of surprise! Yang kadang membuat kita bercucuran air mata kebahagian. Tetapi seringkali juga membuat kita bercucuran air mata kesedihan. Semuanya seperti berjalan dengan berimbang.

Itu yang terjadi pada keluarga saya pada tanggal 29 Agustus 2008. Kami mendapatkan kabar bahwa calon jabang bayi yang telah berumur kurang lebih 32 minggu ternyata mengalami serangan virus. Ini membuat jabang bayi tak mampu bertahan hidup lebih dari dua jam saat nanti dikeluarkan dari rahim ibunya.

Menurut hasil Rontgen Rumah sakit Al-Islam, organ-organ vital bayi saya tak tumbuh dengan sempurna. Mulai dari otak, jantung hingga paru-paru. Dia bisa bertahan hidup karena ada ibunya. Istri saya tentu kaget mendengar analisa ini. Akhirnya dia minta second opinion ke salah satu dokter di RS. Hermina, Bandung, yang sering dapat mengatasi kelainan pada bayi yang sedang dikandung. Pada hari itu juga kami berangkat ke Hermina. Setelah menunggu lama, akhirnya kami bertemu dr. Setyorini. Dia melakukan scan tiga dimensi yang sangat detil. Hasilnya? Ternyata sama dengan hasil yang dikeluarkan Rs. Al –Islam. Dia menyarankan agar segera melakukan operasi cesar. Karena yang percuma saja menunggu hingga 9 bulan. Hasilnya bayi tersebut tak akan bertahan lama. Dia khawatir dengan kondisi psikis istri saya yang pasti terganggu kalau bayi itu dibiarkan lahir hingga 9 bulan.

Otak saya seperti blank. Istri saya menangis. Tapi saya harus tetap berfikir jernih. Saya memutuskan untuk datang ke dokter Bambang keesokan harinya. Dokter ini yang biasa melakukan cek terhadap istri saya. Baru kita dapat memutuskan apa yang harus dilakukan.

Akhirnya kami pulang. Rasanya kami tak tidur semalaman. Istri saya berulang kali bangun. Sambil mencucurkan air mata, dia bertanya” Apa dosa kita sehingga si jabang bayi kita menjadi seperti ini?”. Saya tak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya berkata, ” Tenang mah, tenang..banyak berdoa aja. Selalu ada hikmat dibalik kejadian. Dan ingat kita tak sendirian mengalami hal seperti ini,” Lalu saya menyebutkan teman-teman saya yang mengalami kejadian yang lebih tragis. Mulai dari teman yang telah menunggu memiliki anak hingga 10 tahun, kemudian pada saat hamil malah keguguran pada usia kehamilan 3 bulan. Ada juga yang baru dilahirkan anaknya langsung meninggal dunia. Bahkan ada juga yang anaknya dilahirkan dalam kondisi hidup namun mengalami down syndrome. Luar biasa cobaan mereka. Padahal sepengetahuan saya, mereka adalah orang yang sangat baik dalam menjalani hidup. Sekali lagi, hidup tak selalu seperti yang kita harapkan.

Adzan subuh mulai mengumandang. Istri saya langsung sholat dan mengaji. Pada saat jam menunjukan di angka 7 kami bersiap ke dokter Bambang. Singkat ceriita kami telah berhadapan dengan Dokter Bambang. Awalnya wajah dokter tersebut terlihat berseri-seri melihat kedatangan kami. Tapi, berubah drastis saat saya memperlihatkan hasin rontgen dua dokter spesialis yang berbeda. Dia langsung melakukan pemeriksaan rontgen. Finally, dia memutuskan hal yang sama dengan kedua dokter sebelumnya. Istri saya harus segera operasi cesar untuk mengeluarkan sang jabang bayi.

Dokter Bambang cukup heran dengan kejadian ini. Biasanya kondisi ini mulai terlihat sejak umur si jabang bayi menginjak 4 atau 5 bulan. Dia kemdian memperlihatkan semua hasil USG bayi kita. Semua terlihat normal. Kecuali saat sang jabang bayi menginjak 7 bulan. Ada perubahan ekstrem di alat-alat vitalnya. Dokter aja heran apalagi kita masyarakat awam. Entahlah. Dipastikan penyebabnya adalah virus yang asalnya bisa dari udara atau makanan.

Karena sudah ada pemeriksaan 3 dokter spesialis yang sama, akhirnya kami putuskan hari itu juga istri saya cesar. Sekitar jam 9.30 pagi pada hari Sabtu tanggal 30 agustus 2008 istri saya masuk ruang operasi. Sekitar satu jam kemudian anak lelaki saya dilahirkan. Katanya tak ada tangis yang keluar. Karena paru-paru tak berfungs dengan baik. Terus terang saya tak berani melihat si jabang bayi. Adik saya perempuan yang pertama kali masuk ke ruang bayi untuk melihat kondisinya. Sementara saya dipanggil oleh dokter anak untuk menjelaskan kondisi anak saya. Dia bilang harus merelakan anak saya untuk pergi. Dipastikan tak lama lagi anak saya akan kehilangan nyawa. Jantungnya berdenyut sangat lemah dari dari menit ke menit terus turun. Saya bilang ke dokter, sejak diberitahu kondisinya, kami sudah merelakan kepergian anak kami.

Satu jam kemudian anak saya berhenti bernafas. Tahukan apa yang membuat saya sangat tersiksa? Yaitu saat menunggu waktu satu jam tersebut. Rasanya saya seperti membiarkan anak saya meninggal secara perlahan-lahan. Seperti mengambil ikan dari air kemudian kita meletakan ikan tersebut di daratan. Sehingga dia mati secara perlahan. Kami ambil anak tersebut dari rahim ibunya dan kemudian membuatnya perlahan meninggal di dunia ini. Perasaan itu sungguh sangat menyiksa.

Sekitar pukul 11.30, Muhammad Athaillah,demikian saya menamai anak saya yang memiliki arti Yang Dicintai Allah, meninggalkan dunia ini. Kembali kepada pencipta-NYA. Dia terlalu dicintai oleh sang Maha Pemberi kehidupan. Sehingga diambil sangat cepat. Tak perlu lagi mencicipi berbagai dosa dan kebejatan yang merajalela di dunia ini. Dia kembali dalam kondisi suci. May allah Bless us.

Hari itu juga saya mempersiapkan kuburan baginya. Sementara istri saya masih dalam kondisi pemulihan pasca operasi cesar. Anak saya disholatkan di Rumah kemudian dibawa ke makam setelah sholat Ashar. Dalam perjalanan ke makam, air mata saya mengalir deras. Saya berungkali mengucapkan kata-kata” Maafkan papah Atha, Maafkan Papah..Maafkan papah..”

Setelah semua selesai, saya kembali ke rumah sakit untuk menemani istri saya. Dia telah sadar. Saat pertama melihat saya, dia langsung bertanya, “ Anak kita mirip siapa pah?” Sambil tersenyum, saya berkata,” Menurut tantenya, dia mirip papah. Kulitnya putih dan hidunnya lebih mancung dibanding papah, “ Istri saya menanggapinya dengan menangis tersedu-sedu. May Allah bless us.

Selama menemani istri di Rumah Sakit, pikiran saya selalu bergejolak. Bagaimana mungkin ini terjadi? Wong, selama 7 bulan kondisi si jabang bayi baik-baik aja. Bagaimana mungki ini terjadi? Wong, selama kehamilan istri saya sangat menjaga sang bayi. Tidak pernah ketinggalan melakukan cek rutin ke dokter. Vitamin terus dimakan, demikian juga dengan susu. Plus makanan sehat lainnya.

Tapi sekali lagi. Tak semua berjalan seperti yang kita inginkan. Life is full of surprise! May Allah bless us. May Allah bless Atha. Amien...


Notes:

Terima kasih untuk Bayu yang setia menemani saya mulai dari pemeriksaan di rumah sakit Hermina, penguburan anak saya hingga menemani saya menginap di rumah sakit. Juga Mas Eko beserta istri plus Hamzah dan Eldon yang jauh-jauh datang ke Jakarta untuk menengok kondisi kami. Yuna yang telah menelpon saya berulangkali untuk menanyakan kondisi kami. Juga Arum, Kang Budi rahardjo yang menanyakan secara serius kondisi keluarga kami. Ada juga Edi yang telah lama tak melakukan komunikasi dengan saya, tiba-tiba menelpon saya untuk melakukan dukungan. Tak lupa Mbak Ventura yang juga langsung menelepon saya. Serta SMS ucapan belasungkawa yang tiada henti dari kawan-kawan Corporate Communication XL dan kawan-kawan wartawan milis telcomedia. Terima kasih teman.

Terima kasih semuanya. Terima Kasih. May Allah bless u..amien

Saturday, October 20, 2007

XL: OPERATOR NOMOR 1!


Gimana liburannya rekans? Semoga semuanya berjalan menyenangkan. Saya sendiri menikmati liburan dengan berjalan-jalan ke berbagai tempat di Bandung, Tasikmalaya, Ciamis dan Kuningan serta membaca beberapa buku Dan Brown (http://www. danbrown. com/). Sebenarnya, tak ada yang terlalu seru. Ini kegiatan tahunan yang biasa kami lakukan.Paling-paling yang membuat seru ya kelakukan anak saya, Are, yang benar-benar gak bisa diam. Selalu membuat hal-hal yang tak terduga, menjengkelkan serta membuat tertawa. Mungkin, kelakuan Are, yang sebenarnya membuat suasana lebaran menjadi tak terlalu membosankan.

Oh, ya, kembali ke laptop. Kemaren saya iseng-iseng bikin survey pribadi tentang : Operator mana yang paling banyak digunakan teman/sahabat/ keluarga untuk mengirinkan SMS ke nomor saya? Ternyata, setelah saya hitung. Dari 92 SMS ucapan selamat lebaran yang masuk ke ponsel saya:

39 SMS dari pengguna XL
31 SMS dari pengguna Telkomsel
20 SMS dari pengguna Indosat
1 SMS dari pengguna Mobile-8
1 SMS dari pengguna 3 (Wah, ada juga ternyata keluarga saya yg pakai operator ini:)))

Sehingga dari hasil survey diatas, saya nyatakan ; operator yang paling banyak digunakan adalah XL. Mengalahkan Telkomsel, Indosat, Mobile-8 dan 3. Ini menurut versi pengalaman pribadi lo. Nah, bagaimana dengan temans? Apakah hasilnya sama dengan saya?

IN THE NAME OF ALLOH

Berhentilah mencaci maki kegelapan
lebih baik kau nyalakan secercah cahaya
bagi mereka yang kegelapan

Tebarkanlah iman dengan cinta
gubahlah dunia dengan prestasi
jadikan hidupmu penuh arti
setelah itu bolehlah bersiap untuk mati
kalau kelak datang hari perjumpaan
basahkan bibirmu dengan ucapan kalimat thoyibah
Laa ilaha illalloh

(in Memoriam - Dauzan Farouk-)

Thursday, August 9, 2007



Saya sangat menyukai artikel (tanya-jawab) yang di tulis oleh saudara Herry Mardian (http://suluk.blogsome.com/) berjudul "Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan". Makanya saya copy dan posting di blog ini.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

KUTIPAN dari sebuah diskusi via e-mail antara saya dan Ilham*… mail ’sumber persoalannya’ saya edit biar nggak terlalu panjang. Oh ya, tulisan ini bukan curhatannya Ilham. Tapi tulisan ini kami terima via e-mail, dan kami jadi mendiskusikan pernikahan dan cinta.

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.

[Ilham]

Dari tulisan di atas yang saya baca, saya jadi punya pertanyaan, Her:

“Apakah ‘mencinta’? Mencintai cara kita mencintai, atau mencintai dirinya?

[Herry]

Ham, apakah ada sebuah kebahagiaan yang sempurna, bulat? Seratus persen? Tidak ada. Setidaknya, tidak dalam kehidupan kita yang sekarang. Mengharapkan sebuah perkawinan yang bahagia, sempurna, total, bulat seratus persen bahagia,.. dream on. Not in this life. If you do, then you sucks. Loser. Try to get sober. Wake up. Hang on, get a grip. Whatever.

Tapi perkawinan yang –relatif– bahagia, bisa jadi ada. Walaupun jarang. Berapa lama kita bisa tampil sempurna di hadapan pasangan? Sesuai standar kesempurnaan yang dia harapkan? Nggak mungkin, karena standar kesempurnaan tiap orang pun terus berubah. Honeymoon –will– be over no matter what. But at least, we hope that the biggest portion of our marriage is happines. Itu –relatif–, bukan sempurna.

Mencintai itu ‘memberi’. Tanpa mengharapkan apapun. Seperti matahari yang memberikan sinarnya, atau pohon yang memberikan buah dan manfaatnya tanpa mengharapkan balasan apa-apa hingga dia menjadi layu dan mati. Seperti laut yang terus memberikan mutiara biarpun bilyunan ton sampah dibuang kemukanya setiap hari.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.

(Sapardi Djoko Damono)

Itu level mencintai Ilahiyah. Divine Love. Sejak manusia pertama hingga sekarang, hanya beberapa gelintir manusia yang mempu mencintai seperti itu. Bahkan seorang ibu pun mengharapkan balasan dari anak-anaknya, apakah itu berupa perhatian, bakti, kesopanan maupun tanda terima kasih. Bahkan istri-istri nabi pun cemburu, mengharapkan sesuatu yang ‘lebih’ dari suaminya untuk dirinya, dan membuat lelah dan murung Sang Rasul hingga harus turun wahyu untuk menghibur Beliau saw.

Think: if you were accidentally burnt from head to toe, you become really ugly and disgusting, can’t work anymore, paralyzed… all money’s gone for medication.. will your spouse still love you –’as you are’– ? Apakah kata-kata indah saling mencintai dan menyayangi masih bertaburan? Saya benar-benar berharap, semoga masih, demi Allah. Semoga. Jika demikian maka itu pasangan sejatimu, dan doakan semoga Allah membalasnya dengan cinta-Nya yang sejati, karena engkau telah sepenuhnya ridha pada pasanganmu. Jika demikian maka ia lebih layak untuk Dia daripada untukmu. Serahkan pada-Nya. Berikan kekasihmu untuk-Nya sebagai persembahan tertinggimu kepada-Nya.

Tapi, kalau ternyata tidak, who will love you then?

Cinta sempurna, hanya bisa diraih dan didapatkan dari sosok yang Maha Sempurna. Itulah yang dicari para pejalan ruhani sejati: menginginkan dicintai dan mencintai secara sempurna, oleh dan untuk Yang Maha Sempurna Cintanya.

Lalu untuk apa menikah? Justru itu. Kalau menikah hanya untuk mengejar cinta (psikologis), ia akan habis suatu saat. Apalagi kalo cuma mengejar ketampanan dan kecantikan, harta dan status. Then you will spent the rest of your life, sharing your bed and giving your body to someone that you know he/she ‘just doesn’t have it anymore’. Deep in your heart, you will sigh every second. Helpless. Trapped in your life, breathing in something you don’t like, in every single moment for the rest of your life. You –lose–.

Cinta memang sebuah perasaan yang dahsyat, sering membuat lupa diri, dan sangat jarang orang yang tidak ‘mabuk’ dan mampu menguasai rasionalitasnya ketika dihantam cinta. Tentu saja, karena cinta adalah proyeksi terendah dari asma ‘Ar-Rahiim’, sesuatu milik Yang Maha Agung. Proyeksi terkecilnya saja, bahkan dalam level cinta fisikal dan mental, sudah sedemikian dahsyat efeknya kepada makhluk. Hidup jadi indah, inspirasi mengalir, dan karya-karya raksasa dan monumental akan lahir dari tangan kita karena proyeksi terkecil asma Ilahiyah itu. We become drunk, and try everything we can to not get sober. Not now. No way. Apalagi ketika Allah percaya pada pengabdian kita, dan berkenan menugaskan malaikat untuk menyematkan asma ‘Ar-Rahim’-Nya, yang ‘asli’ dan bukan proyeksi, di dada jiwa kita. Kayak apa dahsyatnya.

Nah, para pejalan ruhani (sufi yang beneran, bukan ngaku sufi atau baru baca beberapa buku sufi macam saya ini) menempatkan pernikahan sebagai kerangka untuk belajar, tangga untuk meraih cinta sejati ini. That Divine Love. To love and be loved, divinely. Perfectly. Sejak awal, paradigmanya beda: baik si pria atau si wanita, sepenuhnya memahami dan mau menerima ketidaksempurnaan pasangannya. Di dalam hati akadnya justru itu: ‘pasangan saya akan ada buruknya, but yet i’m marrying him/her‘.

Ituah sebabnya, kata rasul, bumi dan langit, dan para penghuni langit berguncang, bergetar ketika ada pasangan manusia yang mengucap akad nikah, sumpah nikah mereka. Karena pada hakikatnya mereka berdua bersumpah di hadapan seluruh keagungan majelis Allah ta’ala untuk bersama-sama melangkah memasuki sebuah ‘keberserahdirian’: mereka tidak tahu akan mengalami apa di dalam sana. Proudly (or foolishly) stepping one’s foot into the realm of absolute unknown.

Sumpah ini adalah sumpah kedua terberat setelah sumpah eternal jiwa manusia di Qur’an [7]:172. Bumi dan langit tidak habis pikir dan ngeri: kok berani-beraninya ngambil SKS seberat itu, padahal nanti mereka akan dihakimi Allah ta’ala langsung. Kuliah pertama [7]:172 nya saja belum lulus. Padahal yang mengucapkan sumpah itu ketawa-ketiwi setelahnya, mendengarkan khutbah nikah orang KUA yang nyerempet-nyerempet jorok dan porno (sial, peristiwa sakral kok ngelawak jorok). Bumi sebenarnya udah mau geleng-geleng kepala, tapi teringat bahwa kalau ia geleng-geleng maka seluruh penghuni bumi kiamat dilanda gempa. Makanya semakin ada orang nikah, maka bumi semakin sabar, belajar menahan dirinya untuk tidak geleng-geleng kepala, hehe..

Kembali ke laptop.

Makanya, beragama lewat pernikahan itu lebih berat daripada selibat. Kata Rumi, “kalau engkau termasuk manusia pemberani, maka tempuhlah jalan Muhammad (yaitu menikah dan membersihkan diri lewat pasangan). Tapi kalau tidak, maka setidaknya tempuhlah jalan Isa.”

Justru tujuan pernikahan bagi mereka (para penempuh jalan spiritual sejati) masing-masing lelaki dan wanitanya adalah ‘menggunakan’ ketidaksempurnaan pasangannya itu untuk membersihkan jiwanya sendiri. Dia mengamplas hatinya lewat pasangannya, demi meraih Cinta Sempurna (C dan S nya kapital) untuk diri dan pasangan mereka, karena masing-masing diri mereka menyadari bahwa cinta mereka untuk pasangannya bukanlah cinta yang tertinggi.

Socrates paham sepenuhnya hal ini. Ia, sebagai seorang pencari kebenaran hakiki (sufi sejati juga kali?) justru mencari wanita berperangai paling buruk di Athena untuk ia nikahi. Ia ingin mengasah kebijaksanaan dan kesabarannya lewat istrinya. Kata-kata beliau yang terkenal setelah menikah: “By all means, get married! If you get a good spouse you’ll be happy. If you get a bad one, you’ll become a philosopher. You have nothing to lose.” Lucu sih. Tapi dalem.

Ini dari kitabnya Rumi, Fihi Ma Fihi diskursus #20, terjemahan monsiour Herr Mann Soetomo, tentang pernikahan sebagai jalan Muhammad:

Siang dan malam engkau senantiasa berperang, berupaya mengubah akhlak dari lawan-jenismu, untuk membersihkan ketidak-sucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Lebih baik mensucikan dirimu-sendiri melalui mereka daripada mencoba mensucikan mereka melalui dirimu-sendiri. Ubahlah dirimu-sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut-pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak-adil.

Pada hakikat dari persoalan ini lah, Muhammad S.A.W. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam.” Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, lelaki hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan, agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan-jenis, mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlakukan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.

Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak-murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari tentang ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka itu bagaikan pakaian; di dalamnya engkau dapat membersihkan ketidak-murnianmu dan engkau sendiri menjadi bersih.

Singkirkan dari dirimu kebanggaan, iri dan dengki, sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka, temukanlah kegembiraan ruhaniah. Setelah itu, engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.

Diriwayatkan bahwa suatu malam Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya kembali dari suatu ekspedisi. Belian menyuruh mereka memukul genderang, seraya berkata: “Kita akan berkemah di gerbang kota, dan memasukinya esok-hari.” Mereka bertanya: “Wahai Rasul Allah, mengapa kita tidak langsung saja kembali ke rumah masing-masing?” Beliau S.A.W. menjawab: “Bisa jadi engkau akan menemui istrimu di ranjang bersama lelaki lain. Engkau akan terluka, dan kegaduhan akan timbul.” Salah seorang sahabat tidak mendengar ini, dia masuk ke kota, dan mendapati istrinya bersama dengan orang lain.

Jalan dari Sang Nabi adalah seperti ini: Menanggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidak-adilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.

Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat. Jalan Muhammad S.A.W. adalah dengan menanggung penindasan dan kesakitan yang ditimbulkan oleh lelaki dan perempuan satu sama lain. Jika engkau tidak dapat menempuh jalan Muhammad, setidaknya tempuhlah jalan Isa, sehingga dengan demikian engkau tidak sepenuhnya berada di luar jalan ruhaniah. Jika engkau mempunyai ketenangan untuk menanggungkan seratus hantaman, dengan memandang buah dan panen yang lahir melalui mereka, atau jika engkau diam-diam meyakini di dalam kalbumu, “Walaupun saat ini aku tidak melihat hasil-panen dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan meraih harta-karun,” bahwa engkau akan meraih harta-karun, itu benar adanya; dan yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan yang pernah engkau inginkan dan harapankan.

Jadi, justru di jalan Muhammad orang yang mau menikah seharusnya sepenuhnya menyadari bahwa sifat-sifat pasangan yang ‘buruk’ itu akan menempa kita, demi menjadi bijak, bersih, matang, dan suci, untuk meraih cinta tertinggi bagi masing-masing pasangan. Ini bahagia atau tidak bahagia? Tergantung cara memandang ‘kebahagiaan’. Bahagia kelas permen atau bahagia kelas langit.

Di sisi lain, Rasul melarang menikah tanpa cinta, sekalipun itu paksaan orangtua sendiri. Cinta adalah landasannya pernikahan. Tapi para pejalan ini tahu, bahwa hanya ada dua kemungkinan arah cinta di awal pernikahan itu: cinta itu akan mati saja, atau cinta itu akan mati dan tertransformasi menjadi cinta yang lebih tinggi, dalam tiap tahapan pernikahan. Itu artinya menanggung tempaan secara teratur, selang seling senang dan martil.

Sekarang, kalau saya ditanya, memang mau menempuh pernikahan seperti itu? Berani? Sejujurnya, rasanya nggak lah. Ke’sufi’an (dalam tanda kutip) yang saya punya paling juga masih sebatas wacana. No way. Not way. Saya juga tentu mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan saya. Tapi pada saat yang sama, juga mengharapkan adanya transformasi. Agaknya kalau mau enak semuanya itu jawaban hawa nafsu saya saja.

Kalau merenungi landasan pernikahan kami lumayan membuat saya ‘berkeringat dingin’. Bukan mikirin malam pertama, tapi mikir landasan pernikahan kami. Udah benar belum ya, landasannya, niatnya, paradigmanya, harapannya? Kalo salah gimana? Apa yang terjadi nanti? Apakah langgeng, berantem, bercerai? Kaya, melarat? Nggak tau. Mutlak nggak tau.

Saya hanya berharap semoga Allah tidak pernah meninggalkan kami, dan mencukupi kebutuhan kami lahir dan batin, jasad dan jiwa. Semoga dari ketidaktahuan itu akan lahir sebuah Keberserahdirian yang mendatangkan rahmat.

Islam, aslama, berserah diri. Makanya kata Rasul, menikah adalah setengah diin, diinul-Islam, jalan keberserahdirian. Sebuah kebergantungan hati yang mutlak kepada Allah ta’ala, no matter how good we are. That sense is so hard to accomplish.

Semoga Allah menguatkan kami dalam penempaannya. Semoga Allah berkenan hadir mengunjungi kami dalam kebahagiaan-kebahagiaannya. Ya Rabb, please be gentle with me. This is my first. Actually, You are my first.

Salaam,
–HerryMardian–

Sumber: http://suluk.blogsome.com/2007/06/19/pernikahan-mengasah-diri-melalui-pasangan/

Wednesday, June 20, 2007


Lama sekali tak bicara di depan umum. Terakhir gwa lakukan waktu di Makasar. Waktu acara Commit 2007 di Mal Karebosi. Itupun tak terlalu serius.Gwa pura-pura djadi perwakilan dari Majalah HP. Hehehehe.Karena orang redaksi HP gak ada yang hadir. Dan Mobile Magazine udah di wakili ama Mas Eko. Kita hanya bicara seputar ponsel bersama-sama kawan-kawan dari T&t dan Telset.

Nah, minggu lau kita dapat proyek pelatihan Jurnalistik di Indofarma. Ketua panitianya Cak Furqon. Dialah yang membagi-bagi materi yang akan kita presentasikan. Mas Eko kebagian Manajemen Media, Cak Furqon tentang teknik peliputan, gwa kebagian teknik penulisan berita dan feature. Sedangkan Oky bicara tentang teknik Fotografi.

Acaranya diselenggarakan di wisma Kimia Farma di Bandung tanggal 16 Juni 2007. Kalau gwa sih kebetulan banget. Sekalian balik ke rumah di Bandung. Gratis dan dibayar lagi. Hahahaha.Lumayan lah untuk beli susu anak.Yang kacau adalah waktu mempersiapkan materi yang akan dibicarakan. Gwa dan teman-teman yang lain baru mempersiapakan 1-2 hari menjelang acara. Pertamanya agak kelabakan di bahan materinya. Cak Furqon harus mengaduk-ngaduk lemari bukunya, Oky harus datang ke perpustakaan almamaternya, nah gwa sendiri nyari buku gwa yang dulu plus bahan dari internet. Yang paling santai, sepertinya, mas eko. Maklum beliau sudah biasa presentasi di mana-mana.

Akhirnya saatnya kita beraksi jadi pembicara. Gaya banget ya gwa. Kesempatan pertama dan kedua dilakukan oleh Mas Eko dan Cak Furqon. Pas, mereka presentasi gwa jalan-jalan amas Mas Dwi dan Oky ke Cihampelas Walk. Sekalian foto-foto untuk bahan rubrik Snapshot di Mobile Magz. Lumayan seger juga jalan-jalan disana. Kemudian saat makan siang kita balik ke penginapan di wisma pos jalan Cihampelas. Mempersiapkan diri untuk presentasi. Jam 14.00 kita meluncur ke tempat pelatihan.

Jreng..jreng..gwa dipersilahkan untuk bicara oleh panitia. Hah..awalnya agak mules juga. Tapi dengan mengucapkan Bismillah, presentasi gwa lancar juga. Bak, sudah biasa menjadi pembicara, gwa ngomong ngalor-ngidul. Lagipula kalau salah-salah sedikit mereka juga gak tau. Hehehehe..Ada sekitar 15 orang perwakilan Indofarma dari berbagai divisi yang hadir saat itu. Pas terjadi tanya jawab, dengan pertanyaan yang kadang-kadang tak terduga. Alhamdullilah..Puji Tuhan..Halleluyah.. gwa bisa jawab juga. Nyantai lagi jawabnya. Pokoknya pede abis deh. Waktu presentasi dan tanya jawab selama 1.5 jam menjadi tak terasa.

Gwa sih Cuma mikir. Momen-momen presentasi seperti ini bisa melatih kecepatan kita berfikir. Kecepatan menjawab pertanyaan. Dan dapat terus mengasah pengetahuan kita. Selain untuk terus sharing tentang ilmu yang kita miliki. Dan tentu tak lupa honornya. Hahahahaha. Sekali lagi lumayan, untuk nambah-nambah beli Susu anak. Huhehehehehhe..Ayo Mas Dwi dan Cak furqon cari proyek pelatihan lagi.

PS: Sori gak ada foto pas gwa bicara. Oky gak berinisiatif moto gwa. Hiks. jadi sedih. sebagai kaum narsis gwa kehilangan momen penting..huahahahhaa.


Thursday, June 7, 2007


Hari Minggu kemaren, Are, teh Icha, aa Reza, aa Ozan dan aa Kiki maen ke tempat bermain Paku Haji. Pernah denger gak nama tempat itu? Gwa juga baru dua kali ke Paku Haji. Letaknya di daerah Padalarang. Lokasinya cukup menantang. Ada didaerah perbukitan. Jalannya menanjak dan kecil. Disarankan untuk tidak memakai Mobil sedan. Karena cukup merepotkan. Tapi, susananya cukup menyenangkan. Ada banyak tempat bermain untuk anak-anak. Mulai dari pacuan kuda (kudanya besar-besar dan keren), flying fox, motor lapangan, arena bermain anak. Pokoke asik dehhhh!

Tuesday, May 22, 2007


Upset with American Idol 2007.Baru kali ini gwa terkesima dengan penampilan peserta American Idol.Gwa terkesima dengan suara Melinda doolittle. Saat mendengarkan suaranya di TV saja, gwa bisa merinding mendengar dahsyatnya dia bernyanyi. Bahkan Simon cowell, juri paling kritis, selalu memuji performance Melinda selama 14 minggu berturut. Perkiraan gwa, dia yang bakal jadi the next American Idol.

Tapi hari minggu malam kemaren saya kecewa banget. Saat nonton di stasiun Global TV, Si Melinda ternyata di depak dari babak penyisihan dua besar. Gokilllll! Ono opo iki. Apakah industri tak dapat menerima "si buruk rupa bersuara emas" ini? Apakah hanya karena wajah yang tidak entertaining, membuat Melinda di depak? Shit! Susah memang kl kita berbicara pure industri musik. Teman saya, yang pernah bergerak di manajemen artis, pernah bilang; Industri musik membutuhkan wajah yang oke dan suara yang bagus. Sepertinya itu sudah mutlak. Bahkan di beberapa case, seoarang penyanyi yang memiliki suara sangat standar tetapi memiliki penampilan yang wah lebih di terima di industri ini.

Kemudian saya coba cari tahu gimana rekasi publik di Amerika. Ternyata reaksi kebanyakan dari mereka sama dengan saya. It's shocking!coba aja ketik: melinda doolittle di news google. Satu situs yang saya peroleh: ttp://www.realitytvmagazine.com/blog/2007/05/are_older_ameri.html

Bahkan saat simon-pun berpendapat yang sama. Maklum Melinda, katanya, jagoan doi. Tapi dia bilang; ya beginilah kl hasil kompetisi di serahkan pada hasill pooling SMS. demikian menurut simon.

Ahh..pokoknya saya kecewa deh. Final sesungguhnya dari American Idol 2007 telah usai saat Melinda di eliminasi :(